Kamis, 21 Mei 2015
Pakar: Tanah di Indonesia 70 persen Tidak Subur
Selasa, 21 April 2015
MEMANGGUL BEDIL MEMANEN DAGING
Postingan ini saya copas dari situs Militer www.JakartaGreater.com dengan judul; Prajurit Tidak Hanya Mahir Pegang Bedil Tapi Sukses Menjadi Peternak, karena saya anggap informasi dari kreatifitas tokoh utamanya, -yang seorang tentara aktif - dapat menjadi blaming spirit atau pemicu semangat dari banyak manusia produktif di Nusantara tercinta di tengah gencarnya kampanye pemerintah untuk mencapai swasembada pangan, termasuk swasembada dibidang daging sapi.
Membaca uraian pengalaman sang pelaku, sungguh dapat membakar semangat kita. Bayangkan seorang tentara aktif yang kesehariannya selalu disibukan dengan senjata, tugas dan latihan yang tentu bukan hal sepele, masih mampu memanfaatkan sisa waktunya yang tentu sangat sedikit, dengan membuat usaha peternakan sendiri. Sangat luar biasa dan membanggakan. Usahanya ini sudah sangat pasti meningkatkan pendapatannya untuk menata tingkat kesejahteraan diri pribadi serta keluarganya dan tidak hanya menyandarkannya pada gaji di ketentaraan yang sama kita ketahui mash sangat kecil dibanding tanggung jawab yang dipikulnya.
Disisi lain langkah kreatifnya sudah tentu dapat membebaskannya dari niat bertindak melanggar aturan dan norma kepatutan, seperti menjadi beking judi, ilegal loging, narkoba, pengoplos pupuk, penyelundup BBM, beking pelacuran serta tindakan di luar aturan lainnya.
Semoga semangat sang prajurit dapat meracuni berbagai lapisan masyarakat untuk bergerak maju dengan tetap mengikuti serta menegakan aturan . Selamat membaca dan berkreasi untuk kesejahteraan diri pribadi dan bangsa.
................................................
Prajurit Tidak Hanya Mahir Pegang Bedil Tapi Sukses Menjadi Peternak
April ,12, 2015
Ia sendiri tidak mengira kalau usaha yang degelutinya menjadi peternak yang sukses, bahkan membuat diri sebagai contoh dan motivator bagi prajurit dilingkungan TNI-AD khususnya dalam pelaksanaan program serbuan Teritorial yang sedang dicanangkan oleh Komando atas.
Rusiyadi tidak menyangka usaha peternakan yang dia geluti itu sebagai usaha sampingan untuk menambah perekonomian keluarga membuahkan hasil yang maksimal bahkan dapat mengangkat harkat dan martabat dia sebagai seorang Kepala rumah tangga, sebagai prajurit TNI-AD yang bertugas sebagai Babinsa Nagari Nagari Minang kabau Koramil 06/Sungayang Kodim 0307/Tanah Datar.
Hal seperti ini lah yang membuat kebanggaan tersendiri dimana dia bisa bertemu dengan Para Jenderal sekaligus menjadi nara sumber memaparkan cara berternak yang baik kepada para peserta pelatihan ketahanan pangan tingkat nasional di Pabrik Gula Camping Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Sedikitnya 172 peserta dari seluruh Kasdam, Waster Kasad, Danrem, Dandim serta Babinsa di seluruh Indonesia mengikuti pelatihan kader penanaman padi program ketahanan pangan TNI AD 2014, pada kesempatan itulah Serma Rusiyadi memaparkan kesuksesannya dalam berternak sapi, dan mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik, bahkan bisnis peternakan dan pupuk.
Bila dikaitkan dengan Program Korem 032/Wbr kedepan adalah meningkatkan adalah swasembada pangan dalam 3 tahun kedepan diwilayah Sumatera Barat dimana peran Satkowil harus terus ditingkatkan sesuai juga dengan perintah Kasad satuan kewilayahan harus beruapaya melaksanakan Serbuan territorial terutama terkait dengan mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan dilaksanakan semaksimal mungkin membatu pemerintah daerah dan masyarakat.
Serma Rusiyadi sebagai Babinsa Nagari Minang kabau Koramil 06/Sungayang Kodim 0307/Tanah Datar Korem 032/Wbr tidak menyangka dia dibawa oleh Komandan Korem 032/Wbr Brigjen TNI Widagdo Hendro.S mengikuti pelatihan ketahanan pangan tingkat nasional di Pabrik Gula Camming Bone Sulawesi Selatan, sekaligus memaparkan keberhasilanya dalam beternak sapi dan mengelola pupuk Kompos pada tanggal 16 s/d 19 Desember 2014.
Awal menjadi peternak.
Rusiyadi bercerita tentang mengapa ia mau jadi peternak sapi meskipun ia sebagai seorang prajurit yang bertugas sebagai Babinsa di Koramil Sungayang Kab.Tanah Datar, hal ini bermua ketika tahun 2012 ia baru pindah dari Korem 031/Wira Bima Provinsi Riau ke Korem 032/Wbr Sumatera Barat dan e Kodim 0307/Tanah Datar, ia mendengar bahwa Asutralia tidak mau mengimpor sapinya ke Indonesia, padahal Indonesia sangat membutuhkan daging sapi, beranjak dari persoalan itu terpikir oleh Rusiyadi, masak untuk sapi saja kita harus mengimpor dari Ausralia, bahkan Indonesia sebagai Negara yang memiliki lahan yang cukup luas untuk beternak dan pertanian, tapi masih bergantung dengan Autralia.
Beranjak dari persoalan itulah Rusiyadi bertekad untuk berternak sapi, kebetula tempat tinggalnya di kampung Istrinya Jorong Gudam, Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung Emas Kabupaten Tanah Datar memiliki lahan yang cukup luas dan cocok untuk berternak sapi, tapi apa daya, dia tidak mempunyai ilmu berternak ditambah modalnya tidak mencukupi, namun dia tidaklah putus asa, Rusiyadi mencoba mendatangi Dinas Perternakan Kab. Tanah Datar dan mencari Informasi bagai mana cara berternak sapi yang baik, termasuk mendapatkan progam Pemerintah di bidang perternakan, oleh Kabid Peternakan Kab. Tanah Datar dia disarankan untuk membetuk kelompok tani.
Selang berapa waktu Rusiyadi pun membentuk kelompok ternak sapi dengan beberapa orang dikampung istrinya itu, kelompok yang iya betuk diberi nama “Kelompok ternak bangun nagari”. Untuk pengadaan sapi, ia tidak segan-segan menguras tabungannya yang tidak seberapa, untuk membeli seekor sapi jenis PO seharga 6,5 juta lebih, itulah awal dari kiprahnya menjadi perternak yang sucses.
Sayangnya meskipun sudah mendapatkan arahan dari Dinas Penternakan, namun usaha tersebut belum berhasil, kegagalan itu bukan disebabkan karena tidak serius berternak, tapi dikarenakan sapi yang iya belikan itu tidak bisa berkembang biak karena sapinya mandul, namun Rusiyadi tidak berputus asa setelah tiga bulan sapi itu tidak beranak, lantas ia jual, uang tersebut dibelikan sapi jantan seharga 9 juta, dari situ dia memulaikan mengembangkan usaha ternak sapi ini, terang Rusiyadi mengatasi kegagalan saat memulai.
Tekad nya terus berternak sapi mulai memperlihatkan hasil, dimana sapi jantan yang ia pelihara memperlihatkan perkembangan yang mengesankan, setelah 1,5 tahun ia memeliharanya dan sapi itu laku dijual seharga 27 juta rupiah.
Melihat hasil yang cukup menggembirakan ia pun tertarik dengan usaha penggemukan sapi, ia optimis kalau usaha sapi sangat menguntungkan, namun berbeda ketika dia memulai usa penggemukan, uang iya dapat tidak di belikan kepada sapi, akan tetapi dia gukakan untuk menbangun kandang, uang penjualan ditambah pinjaman sebesar 20 juta saya dipakainya membuat kandang dengan kapasitas 30 ekor sapi.
Kandang yang telah ia bangun itu masih kosong, lantas bagai mana mendapat sapi untuk mengisi kandang dengan kapasitas 30 ekor itu, sementara ia tidak punya uang lagi untuk membeli sapi, untuk mengatasi hal itu ia mengajak orang kampung agar mau memelihara sapi dikandangnya ketika itu katanya ada lima ekor sapi yang dipeliharanya, tidak puas dengan lima ekor sapi itu saja iya pun mengajukan keredit kepada Bank untuk membeli sapi kebetulan pada waktu itu ada kredit ketahanan pangan dan energy (KKPE) yang memberikan peluang kepada peternak untuk mendapatkan kredit dengan bunga rendah.
Ia termasuk salah satu yang layak menerima kredit KKPE tersebut. Saat itu saya termasuk salah satu yang menerima kridit sebesar 200 juta rupiah untuk membeli sapi sebanyak 13 ekor ditambah dengan kepercayaan orang akhirnya kandang yang berkapasitas 30 ekor dapat terpenuhi tuturnya.
Mengelola kotoran ternak menjadi kompos
Dengan 30 ekor sapi yang dikelolanya terus berkembang namun kini mulai muncul dengan kotoran yang dihasilkan, oleh dinas petternakan ia disarankan untuk mengelola kotoran ternaknya menjadi Kompos, untuk itulah dia diajar membuat kompos kelompok ternak di Salimpaung Kabupaten Tanah Datar yang berhasil mengelola kotoran ternak menjadi kompos.
Maka iapun mengembangkan usaha pengolahan kotoran ternak menjadi kompos, ternyata usaha tersebut juga membuahkan hasil yang optimal berkembang dengan baik, karena kesadaran petani untuk memakai kompos mulai muncul hingga kompos yang dibuat cukup laku terjual, yang menarik tidak hanya dari kotoran ternak itu sendiri, untuk meningkatkan produksi pupuk kompos ia mendatangkan kotoran ternak dari peternak masyarakat lainnya dikampungnya.
Cara yang dipakai untuk mendapatkan kotoran ternak milik masyarakat dengan cara cukup unik, dimana Rusiyadi membentuk “kelompok usaha bayar listrik dengan kotoran sapi”, jadi dengan cara itu setiap kotoran ternak ia ambil dari masyarakat dengan kompensasi “membayarkan listrik para peternak tersebut” cara ini sangat mujur karena dapat membantu mereka. Usaha pengelolan kompos semakin berkembang sehingga kompos yang dihasilkan mencapai 20 ton perbulan.
Pelatihan pembuatan Pupuk organik
Program Korem 032/Wbr untuk meningkatkan adalah swasembada pangan diwilayah Sumatera Barat mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan membatu pemerintah daerah dan masyarakat, maka dilaksanakan pelatihan pembuatan Pupuk Organik seperti Rotan, Roter dan Roma dimana Rusiyadi ikut serta sebagai anggota pelatihan yang di laksanakan Batalyon Inf 133/Yudha sakti.
Setelah mengikuti pelatihan yang dilaksanakan Korem 032/Wbr di Batalyon Inf 133/Yudha sakti yang mendatangkan para pakar dan ahli dari Jawa Ayah Manjel yang tergabung dalam wadah JKMP4 maka saya menggunakan ramuan organic, hal tersebut tidak saja membantu saya dalam mengelola kompos karena proses pengolahan kotoran tidak lagi berbau, ramuan itu juga dapat meningkatkan pertambahan daging mencapai 1.3 kg perharinya ujar Rusiyadi.
Kini telah mencapai 3 tahun usaha sapi yang digelutnya, ia sangat merasakan manfaatnya tidak saja dari sisi materi karena penambahan pendapatan, iapun mendapat apresiasi dari pimpinan TNI-AD, kuhusnya oleh Komandan Korem 032/Wbr Brigjern TNI Widagdo Hendro. S, iya diajak kemana-mana untuk memaparkan keberhasilannya. Keberhasilannya sebagai peternak dapat mempelancar tugas pokoknya sabagai Babinsa dengan ilmu pengetahuan yang didapat sebagai Babinsa harus menyatu dengan masyarakat dan lebih mudah bersosialissi dengan masyarakat karena rata-rata mereka adalah petani dan peternak, jadi usaha tidak menggangu tugas utama sebagai abdi masyarakat ungkap rustiyadi yang menyambut usaha peternakan itu ia lakukan bersama istri dan anak-anaknya.
Sumber : http://jakartagreater.com/prajurit-tidak-hanya-mahir-pegang-bedil-tapi-sukses-menjadi-peternak/
Kamis, 25 September 2014
Awas, 10 Makanan Ini Dilarang Masuk Kulkas
Minggu, 08 Desember 2013
PENCATATAN DATA TERNAK SAPI DAN MANFAATNYA.
![]() |
| Kartu Rekam Data Ternak Sapi (Photo: www.bbibsingosari.com). |
Definisi PENCATATAN (Recording)
Macam Pencatatan (Recording)
1. Identitas.
2. Dokumentasi
3. Catatan Khusus.
4. Sertifikat Ternak.
Manfaat Pencatatan (Recording).
Berikut ini beberapa beberapa manfaat Pencatatan atau recording:
6. Menghindari terjadinya inbreeding.
1. http://bbibsingosari.com/buletin_detail/manfaat_recording_terhadap_dunia_peternakan.html
ASURANSI TERNAK SAPI DI LUNCURKAN
![]() |
| Asuransi Sapi menjamin modal usaha tidak hilang. (Photo: Guna's ). |
Sumber :
1. http://distankotasukabumi.blogspot.com/2013/11/kementan-bi-luncurkan-skema-asuransi_4.html
2. http://www.crmsindonesia.org/node/546
Rabu, 04 Desember 2013
PALA : Primadona Baru Petani Parigi Moutong.
![]() | |
| Pala dapat tumbuh subur di antara tanaman kakao |
Ketertarikan para petani di Ampibabo kepada komoditas pala ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ;
- Usia tanaman kakao yang telah tua, sehingga produksi sangat rendah. - Rendahnya hasil produksi kakao, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi.
- Kritis lahan akibat kurangnya unsur hara. Hal ini sangat berhubungan dengan sistem budidaya selama ini yang sangat bergantung dengan budaya anorganik, sementara saat ini harga pasok kebutuhan kebun pabrikan semakin tinggi disamping kurangnya barang tersebut dipasar lokal.
- Tingkat serangan hama dan penyakit pada tanaman kakao yang semakin kompleks.
- Faktor geografis yang cocok untuk budidaya tanaman pala.
- Cara budidaya pala yang mudah, termasuk pasca panen.
- Permintaan komoditas pala serta harga jualnya yang cukup baik.
Di kecamatan Ampibabo, Pala di tanam diantara pohon-pohon kakao yang memang umumnya sudah tergolong pohon kakao tua atau nampak tua karena kekeliruan tekhnik berbudidaya. Hanya saja belum ada keterangan ataupun hasil penelitian resmi yang dapat diakses oleh para petani di wilayah ini, umumnya di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, apakah ragam jenis hama dan penyakit yang selama ini menyerang tanaman kakao dapat pula menyerang tanaman pala.
Semoga saja pihak pemerintah yang sangat diharapkan oleh para petani untuk dapat mencari dan memberi solusi atas kondisi tanaman kakao melalui program-program baik daerah maupun pusat, agar para petani dapat keluar dari keterpurukan produksi kakao ini.
Selasa, 03 Desember 2013
Kakao ..Oh Kakao...Nasibmu Kini !.
Penurunan produksi kakao diwilayah Kecamatan Ampibabo, umumnya di sebabkan oleh beberapa faktor klasik, seperti ; Usia Tanaman Kakao, Lama masa Penghujan di Kab. Parigi Moutong, Miskin Hara, PBK, Perubahan Iklim global, dan beberapa faktor lainnya.
Sementara Ketua GAPOKTAN DESA BURANGA, I Gusti Lanang Putrayasa, S.Sos. menyatakan ".....fakta yang kami alami ini seolah memberi penegasan kepada saya, bahwa kedepan akan semakin sulit meyakinkan para petani diwilayah ini untuk mempertahankan TANAMAN KAKAO sebagai Idola para petani ".
Tentu saja kita masih dan akan selalu berharap bahwa Tanaman Kakao tetap dibudidayakan serta tetap menjadi primadona petani diwilayah ini. Dan ini sangat membutuhkan perhatian dan solusi dari pemerintah serta komunitas kakao kita melalui programming yang dapat memperbaiki kondisi sekarang ini.
Sabtu, 12 Oktober 2013
CARA MENANGGULANGI KUKU KIPAS (BEBEK) PADA SAPI
- Melapisi lantai kandang yang terbuat dari semen tersebut dengan jerami atau dengan membuatkan galar kayu. Sapi tidak mudah terpeleset, tetapi memberi tambahan pekerjaan karena akan sedikit mengalami kesulitan dalam pembersihan kandang, katena serakan jerami dan galar kayu.
- Membuat jadwal sapi di keluarkan dari kandang, minimal 2 kali dalam seminggu secara rutin. Sapi di tempatkan/gembalakan di tempat terbuka.
- Membawa dan membiarkan sapi berjalan/memijakan kaki pada pasir yang hangat/panas karena sinar matahari dengan waktu paling kurang 0,5 - 1 jam, secara rutin setoap kali sapi-sapi di keluarkan dari kandang.
Jumat, 11 Oktober 2013
PENYAKIT BAKTERIAL PADA TERNAK SAPI
Di bawah ini adalah artikel yang saya ambil dari Blog Program Studi PENYULUHAN PETERNAKAN STPP MALANG, dengan maksud untuk menambah ilmu dan pengetahuan bagi peternak, khususnya di daerah yang memiliki potensi baik di bidang peternakan, tetapi dengan basis ilmu dan pengetahuan yang kurang.
PENYAKIT BAKTERIAL PADA RUMINANSIA
1. Penyakit Brucellosis (Keluron Menular).
kemudian mati,
terjadi gangguan alat-alat reproduksi yang mengakibatkan kemajiran temporee atau permanen.
Kerugian pada sapi perah berupa turunnya produksi air susu.
sisa-sisa abortusan yang bersifat infeksius dihapushamakan. Fetus dan plasenta harus dibakar dan vagina apabila mengeluarkan cairan harus diirigasi selama 1 minggu
bahan-bahan yang biasa dipakai didesinfeksi dengan desinfektan, yaitu : phenol, kresol,
amonium kwarterner, biocid dan lisol
hindarkan perkawinan antara pejantan dengan betina yang mengalami kluron. Apabila seekor ternak pejantan mengawini ternak betina tersebut, maka penis dan preputium dicuci dengan cairan pencuci hama
anakanak ternak yang lahir dari induk yang menderita brucellosis sebaiknya diberi susu dari ternak lain yang bebas brucellosis
Pengobatan :
Belum ada pengobatan yang efektif terhadap brucellosis.
2. Penyakit Anthrax (Radang Limpa)
Anthrax
Anthrax adalah penyakit menular yang biasanya bersifat akut atau perakut pada berbagai jenis ternak (pemamah biak, kuda, babi dan sebagainya), yang disertai dengan demam tinggi dan disebabkan oleh Bacillus anthracis. Biasanya ditandai dengan perubahan-perubahan jaringan bersifat septicemi, timbulnya infiltrasi serohemorrhagi pada jaringan subkutan dan subserosa dan dengan pembengkakan akut limpa. Pelbagai jenis ternak liar (rusa, kelinci, babi hutan dan sebagainya) dapat pula terserang. Faktor-faktor predisposisi daat mempermudah timbulnya penyakit pada hewan-hewan yang mengandung spora yang bersifat latent.
Menurut penelitian, kerentanan hewan terhada anthrax dapat dibagi dalam beberapa kelompok:
Hewan-hewan pemamah biak terutama sai, domba kemudian berturut-turut kuda, rusa, kerbau dan pemamah biak liar lainnya
Babi tidak begitu rantan
Anjing, kucing, tikus dan sebagian besar bangsa burung realtif tidak rentan tetapi dapat diinfeksi secara buatan
Hewan-hewan berdarah dingin sama sekali tidak rentan
Manusia juga rentan terhadap infeksi bakteri ini, meskipun tidak serentan ternak pemamah biak. Anthrax merupakan salah satu zoonosis yang penting dan sering menyebabkan kematian pada manusia.
Di Indonesia anthrax menyebabkan banyak kematian pada ternak. Kerugian dapat berupa kehilangan tenaga kerja di sawah dan tenaga tarik, serta kehilangan daging dan kulit karena ternak tidak boleh dipotong.
Penyakit anthrax di Indonesia ditemukan sejak tahun 1884. Sejak itu Pemerintah baik pada masa kolonial Belanda sampai Pemerintah RI telah berupaya untuk menurunkan kasus-kasus penyakit bakterial ini.
Namun pada awal tahun 1990 tiba-tiba masyarakat peternakan Indonesia dikejutkan dengan wabah anthrax yang menyerang sapi-sapi perah di Boyolali. peristiwa ni menyebabkan jumlah ternak yang terjangkiti penyakit anthrax mencapai 3600 ekor sapi dan 1406 ekor sapi mati.
Penyebab
Penyebab penyakit anthrax adalah bakteri Bacillus anthracis. Faktor-faktor seperti hawa dingin, kekurangan makanan dan keletihan dapat mempermudah timbulnya penyakit pada ternak-ternak yang mengandung spora yang bersifat laten.
Bacillus anthracis berbentuk batang, lurus dengan ujung siku-siku. dalam biakan membentuk rantai panjang. dalam jaringan tubuh tidak pernah terlihat rantai panjang, biasanya tersusun secara tunggal atau dalam rantai pendek dari 2 - 6 organisme. Dalam jaringan tubuh selalu berselubung (berkapsel). kadang-kadang satu kapsel melingkupi Beberapa organisme.
Bakteri Bacillus anthracis bersifat gram positif, berukuran besar dan tidak dapat bergerak. Bakteri yang sedang menghasilkan spora memiliki garis tengah 1 mikron atau Lebih dan panjang 3 mikron atau lebih.
Basil anthrax bersifat aerob dan akan membentuk spora yang letaknya di tengah bila cukup oksigen. Spora tersebut mampu hidup di tanah sampai puluhan tahun. Bentuk spora lebih tahan terhadap suhu pasteurisasi, oleh macam-macam desinfektan atau proses pembusukan dibandingkan bentuk vegetatif B. antracis.
Pemusnahan spora B. anthracis dapat dicapai dengan uap basah bersuhu 900C selama 45 menit, air mendidih atau uap basah bersuhu 1000C selama 10 menit, dan panas kering pada suhu 1200C selama satu jam.
Penularan
Cara penularan Anthrax
Spora dan tanah
Port d’entre Anthrax
Anthrax tidak lazim ditularkan dari ternak yang satu ke ternak yang lain secara langsung. Wabah anthrax pada umum nya ada hubungannya dengan tanah netral atau berkapur yang alkalis yang menjadi daerah inkubator bakteri tersebut.
Bila penderita anthrax mati kemudian diseksi atau termakan burung-burung atau ternak pemakan bangkai, maka sporanya akan dengan cepat terbentuk dan mencemari tanah sekitarnya. Bila terjadi demikian, maka menjadi sulit untuk memusnahkannya. Hal tersebut menjadi lebih sulit lagi, bila spora yang terbentuk itu tersebar angin. air pengolahan tanah,rumput makanan ternak dan sebagainya. Di daerah iklim panas lalat penghisap darah antara lain jenis Tabanus dapat bertindak sebagai pemindah penyakit.
Rumput pada lahan yang tercemari penyakit ini dapat ditempati spora. Apabila rumput ini dimakan sapi perah maupun ternak lainnya, mereka akan tertulari.
Penyebaran penyakit ini umumnya dapat berkaitan dengan pakan yang kasar atau ranting-ranting yang tumbuh di wilayah yang terjangkit penyakit anthrax. bahan pakan yang kasar kadangkala menusuk membran di dalam mulut atau saluran pencernaan dan masuklah bakteri Bacillus anthracis tersebut melalui luka-luka itu. jadi melalui luka-luka kecil tersebut maka terjadi infeksi spora.
Penularan dapat terjadi karena ternak menelan tepung tulang atau pakan lain atau air yang sudah terkontaminasi spora. Selain itu gigitan serangga pada ternak penderita di daerah wabah yang kemudian serangga tersebut menggigit ternak lain yang peka di daerah yang masih bebas merupakan cara penularan juga.
Pada manusia, biasanya infeksi berasal dari ternak melalui permukaan kulit terluka, terutama pada orang-orang yang banyak berhubungan dengan ternak.
Infeksi melalui pernafasan mungkin terjadi pada pekerja-pekerja penyortir bulu domba (wool-sarter’s disease), sedangkan infeksi melalui pencernaan terjadi pada orang-orang yang makan daging asal ternak penderita anthrax.
Gejala Klinis pada Ternak
Gejala klinis dan gejala umum anthrax
Gejala-gejala umum anthrax berupa pembengkakan di daerah leher, dada, sisi lambung, pinggang dan alat kelamin luar. Pembengkakan tersebut berkembang dengan cepat dan meluas, bila diraba tarasa panas, konsistensinya lembek atau keras, sedangkan kulit di daerah tersebut normal atau terdapat luka yang mengeluarkan eksudat cair berwarna kuning muda. Kemudian pembengkakan pada daerah leher, pada selaput lendir rektum serta pembengkakan berupa bungkul-bungkul. Anthrax ada 3 bentuk yaitu perakut, akut dan kronis.
Pada ternak terdapat tiga bentuk penyakit anthrax, yaitu perakut, akut dan kronis. Kondisi perakut mempunyai gejala penyakit yang sangat mendadak dan segera terjadi kematian karena perdarahan di otak. Gejala tersebut berupa sesak napas, gemetar kemudian ternak rebah. Pada beberapa kasus ternak menunjukkan gejala kejang-kejang. Kematian dapat terjadi hanya dalam waktu 2 - 6 jam saja.
Pada kondisi akut, mula-mula terjadi panas tubuh yang meningkat (demam), kemudian penderita menjadi gelisah, depresi dengan pernafasan susah. Gejala ini diikuti dengan jantung cepat dan lemah, kejang dan penderita segera mati. Selama penyakit berlangsung, demamnya mencapai 41,50C. Produksi susu berkurang dan susu yang dihasilkan berwarna sangat kuning atau kemerahan. Pembengkakan pada tenggorok dan lidah adalah salah satu gejala umum yang tampak.
Pada bentuk perakut kematian dapat mencapai 100% sedangkan dalam bentuk yang akut kematian dapat mencapai 90% meski telah dilakukan pengobatan.
Sedangkan anthrax bentuk kronis umumnya terdapat pada babi, tetapi juga terdapat pada ternak lainnya. gejalanya ditandai dengan adanya lepuh lokal terbatas pada lidah dan tenggorokan. Bangkai ternak yang mati karena anthrax dilarang keras untuk diseksi. Bangkai tersebut cepat membusuk karena sepsis dan sangat menggembung. Kekakuan bangkai (rigormortis) biasanya tidak ada atau tidak sempurna. Darah yang berwarna hitam seperti ter mungkin keluar dari lubang hidung dan dubur yang bengkak dan lekas membusuk. Selaput lendir kebiruan, sering terdapat penyembulan rektum disertai perdarahan.
Gejala patologis anatomis
Bangkai hewan yang mati karena anthrax dilarang keras untuk diseksi. Bangkai hewan yang mati karena anthrax cepat membusuk karena sepsis. Kekakuan bangkai biasanya tidak ada atau tidak sempurna. Darah yang berwarna hitam seperti ter mungkin keluar dari lubang hidung dan dubur yang bengkak dan ceat membusuk. Selaput lendir kebiruan, sering terdapat penyembulan rektum disertai perdarahan.
Pencegahan, Pengobatan dan perlakuan pemotongan hewan dan daging.
Bagi daerah bebeas anthrax tindakan pencegahan didasarkan ada peraturan yang ketat terhadap pemasukan hewan ke daerah tersebut. Anthrax pada hewan ternak daat dicegah dengan vaksin pada umumnya hewan ternak di daerah enzootik anthrax yang dilakukan setiap tahun disertai cara-cara pengawasan dan pengendalian yang ketata. Oleh karena anthrax pada hewan ternak sangat menular dan fatal, pengendalia enyakit didasarkan pada engobatan seawal mungkin disertai cara-cara pengendalian yang ketat. Hewan berpenyakit anthrax dilarang keras untuk dipotong.
Pencegahan
Tindakan pencegahan yang bisa diupayakan adalah (1) bagi daerah yang masih bebas anthrax, tindakan pencegahan didasarkan pada pengaturan yang ketat terhadap pemasukan ternak ke daerah tersebut (2) pada daerah enzootik anthrax, anthrax pada ternak ternak dapat dicegah dengan vaksinasi yang dilakukan setiap tahun. Pada sapi dan kerbau dosis 1 cc, pada kambing, domba, babi dan kuda dosis sebesar 0,5 cc. Vaksin diberikan secara injeksi subkutan.. Membuat preparat apus darah yang diambil dari telinga pada ternak yang mati secara tiba-tiba (3) jika ternak mati karena anthrax, maka tidak boleh dibuka bangkainya, tetapi diambil salah satu daun telinga dan masukkan ke dalam kantong plastik serta didinginkan jika mungkin, selanjutnya di bawa ke laboratorium untuk didiagnosis. Bangkai langsung dibakar atau dikubur sedalam 2 meter dan ditutup kapur, kulit dan bulu penderita dimusnahkan.
Pengobatan
Pengobatan umumnya dilakukan dengan menggunakan kombinasi antara antiserum dan antibiotika. Antibiotika yang dipakai antara lain Procain Penisilin G, treptomisin atau kombinasi antara Penisilin dan Streptomisin.
3. Radang Ambing ( Mastitis)
Mastitis adalah istilah yang digunakan untuk radang yang terjadi pada ambing, baik bersifat akut, subakut ataupun kronis, dengan kenaikan sel di dalam air susu dan perubahan fisik maupun susunan air susu, disertai atau tanpa adanya perubahan patologis pada kelenjar (Subronto, 2003). Akoso (1996) menyatakan bahwa pada sapi, mastitis sering terjadi pada sapi perah dan disebabkan oleh berbagai jenis bakteri.
Sori et al (2005) menyatakan bahwa kerugian kasus mastitis antara lain : kehilangan produksi susu, kualitas dan kuantitas susu berkurang, banyak sapi yang diculling. Penurunan produksi susu per kuartir bisa mencapai 30% atau 15% per sapi per laktasi, sehingga menjadi permasalahan besar dalam industri sapi perah.
Faktor Penyebab Mastitis
Resistensi atau kepekaan terhadap mastitis pada sapi, kambing atau domba bersifat menurun. Gen- gen yang menurun akan menentukan ukuran dan struktur puting Saat periode kering adalah saat awal bakteri penyebab mastitis menginfeksi, karena pada saat itu terjadi hambatan aksi fagositosis dari neutrofil pada ambing. Berbagai jenis bakteri telah diketahui sebagai agen penyebab penyakit mastitis, antara lain Streptococcus agalactiae, Str. Disgalactiae, Str. Uberis, Str.zooepedermicus, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Enterobacter aerogenees dan Pseudomonas eroginosa. Dilaporkan juga bahwa yeast dan fungi juga sering menginfeksi ambing, namun biasanya menyebabkan mastitis subklinis.
Hasil penelitian di Ethiopia oleh Sori et al (2005) menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan susu dengan metode CMTdari 180 ekor sapi perah lokal Zebu dan persilangan, prevalensi mastitis mencapai 52,78%, dengan 47 ekor (16,11%) merupakan mastitis klinis dan 87 ekor (36,67%), merupakan mastitis subklinis.
Staphylococcus aureus merupakan salah satu penyebab utama mastitis pada sapi perah yang menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar akibat turunnya produksi susu. Dilaporkan oleh peneliti yang sama bahwa dari 134 isolat yang diuji, maka persentase terbesar mikroorganisme penyebab mastitis adalah Staphylococcus aureus.
Disamping faktor –faktor mikroorganisme yang meliputi berbagai jenis, jumlah dan virulensinya, faktor ternak dan lingkungannya juga menentukan mudah tidaknya terjadi radang ambing dalam suatu peternakan. Faktor predisposisi radang ambing dilihat dari segi ternak, meliputi bentuk ambing, misalnya ambing yang sangat menggantung, atau ambing dengan lubang puting terlalu lebar.
Bentuk puting, ada dan tidaknya lesi pada puting mempengaruhi kejadian mastitis. Hasil penelitian Sori et al (2005) menunjukkan bahwa prevalensi mastitis pada puting pendulous mencapai 77,78%, sedangkan pada puting non pendulous mencapai 50%. Puting yang lesi memungkinkan prevalensi mastitis sebesar 84%, sedangkan pada puting normal sebesar 47,74%. Letak kuartir juga mempengaruhi kejadian mastitis. Kuartir kiri, belakang dan kanan, depan lebih sering mengalami mastitis daripada kedua puting lainnya. Pada kiri belakang, mastitis mencapai 34,3%, sedangkan kanan, depan mencapai 30,06%.
Faktor umur dan tingkat produksi susu sapi juga mempengaruhi kejadian mastitis. Semakin tua umur sapi dan semakin tinggi produksi susu, maka semakin mengendur pula spinchter putingnya. Puting dengan spincter yang kendor memungkinkan sapi mudah terinfekesi oleh mikroorganisme, karena fungsi spinchter adalah menahan infeksi mikroorganisme. Semakin tinggi produksi susu seekor sapi betina, maka semakin lama waktu yang diperlukan spinchter untuk menutup sempurna. Faktor bangsa sapi juga mempengaruhi kejadian mastitis. Dilaporkan bahwa kejadian mastitis pada sapi persilangan (Crossbreed) lebih besar daripada sapi lokal.
Faktor lingkungan dan pengelolaan peternakan yang banyak mempengaruhi terjadinya radang ambing meliputi pakan, perkandangan, banyaknya sapi dalam satu kandang, ventilasi, sanitasi kandang dan cara pemerahan susu. Dilaporkan bahwa pada ventilasi jelek, mastitis bisa mencapai 87,5% dan pada ventilasi yang baik mencapai 49,39%.
Gejala-gejala
Secara klinis radang ambing dapat berlangsung secara akut, subakut dan kronik. Radang dikatakan bersifat subklinis apabila gejala-gejala klinis radang tidak ditemukan saat pemeriksaan ambing. Pada proses radang yang bersifat akut, tanda-tanda radang jelas ditemukan, seperti : kebengkakan ambing, panas saat diraba, rasa sakit, warna kemerahan dan terganggunya fungsi. Air susu berubah sifat, menjadi pecah, bercampur endapan atau jonjot fibrin, reruntuhan sel maupun gumpalan protein. Proses yang berlangsung secara subakut ditandai dengan gejala sebagaimana di atas, namun derajatnya lebih ringan, ternak masih mau makan dan suhu tubuh masih dalam batas normal. Proses berlangsung kronis apabila infeksi dalam suatu ambing berlangsung lama, dari suatu periode laktasi ke periode berikutnya. Proses kronis biasanya berakhir dengan atropi kelenjar mammae.
Cara penularan
Penularan mastitis dari seekor sapi ke sapi lain dan dari quarter terinfeksi ke quarter normal bisa melalui tangan pemerah, kain pembersih, mesin pemerah dan lalat.
Diagnosis
Pengamatan secara klinis adanya peradangan ambing dan puting susu, perubahan warna air susu yang dihasilkan. Uji lapang dapat dilakukan dengan menggunakan California Mastitis Test (CMT), yaitu dengan suatu reagen khusus, diagnosis juga bisa dilakukan dengan Whiteside Test.
Kontrol
Untuk mencegah infeksi baru oleh bakteri penyebab mastitis, maka perlu beberapa upaya, antara lain (1) meminimalisasi kondisi-kondisi yang mendukung penyebaran infeksi dari satu sapi ke sapi lain dan kondisi-kondisi yang memudahkan kontaminasi bakteri dan penetrasi bakteri ke saluran puting. Air susu pancaran pertama saat pemerahan hendaknya ditampung di strip cup dan diamati terhadap ada tidaknya mastitis. Perlu pencelupan atau diping puting dalam biosid 3000 IU (3,3 mililiter/liter air). Penggunaan lap yang berbeda disarankan untuk setiap ekor sapi, dan pastikan lap tersebut telah dicuci dan didesinfektan sebelum digunakan. (2) Pemberian nutrisi yang berkualitas, sehingga meningkatkan resistensi ternak terhadap infeksi bakteri penyebab mastitis. Suplementasi vitamin E, A dan ร-karoten serta imbangan antara Co (Cobalt) dan Zn (Seng) perlu diupayakan untuk menekan kejadian mastitis.
Pengobatan
Sebelum menjalankan pengobatan sebaiknya dilakukan uji sensitifitas. Resistensi Staphylococcus aureus terhadap penicillin disebabkan oleh adanya ร- laktamase yang akan menguraikan cincin ร- laktam yang ditemukan pada kelompok penicillin. Pengobatan mastitis sebaiknya menggunakan Lincomycin, Erytromycin dan Chloramphenicol.
Disinfeksi puting dengan alkohol dan infusi antibiotik intra mamaria bisa mengatasi mastitis. Injeksi kombinasi penicillin, dihydrostreptomycin, dexamethasone dan antihistamin dianjurkan juga. Antibiotik akan menekan pertumbuhan bakteri penyebab mastitis, sedangkan dexamethasone dan antihistamin akan menurunkan peradangan. Mastitis yang disebabkan oleh Streptococcus sp masih bisa diatasi dengan penicillin, karena streptococcus sp masih peka terhadap penicillin.
Strategi efektif untuk mencegah dan mengatasi mastitis yang disebabkan oleh Staphilococcus aureus masih sukar dipahami. Dilaporkan bahwa bakteri Staphylococcus sp dan Streptococcus sp yang diisolasi dari kasus mastitis sapi telah banyak yang multi resisten terhadap beberapa antibakterial. Penggunaan antibiotik untuk mengatasi mastitis juga telah banyak merugikan masyarakat konsumen, karena susu mengandung residu antibiotik bisa menimbulkan gangguan kesehatan.
Akibat penggunaan antibiotik pada setiap kasus mastitis, yang mungkin tidak selalu tepat, maka timbul masalah baru yaitu adanya residu antibiotika dalam susu, alergi, resistensi serta mempengaruhi pengolahan susu. Mastitis subklinis yang disebabkan oleh bakteri gram positif juga makin sulit ditangani dengan antibiotik, karena bakteri ini sudah banyak yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotik. Diperlukan upaya pencegahan dengan melakukan blocking tahap awal terjadinya infeksi bakteri.
Hasil penelitian Wall (2006) menunjukkan bahwa efikasi pirlymycin sebagai antibiotik untuk mengatasi mastitis yang disebabkan Staphylococcus aureus hanya bisa mencapai 13% dengan masa terapi dua hari, dan mencapai 31% apabila terapi diperpanjang sampai 5 hari. Jika diperhitungkan antara produksi susu dengan biaya terapi, ongkos bahan bakardan adanya kandungan sel-sel somatik dalam air susu, maka masih dibawah Break Even Point.
Selanjutnya Middleton dan Foxt (2001) melaporkan bahwa penggunaan infus intramammaria dengan 120 ml, 5% Povidone-Iodine (0,5% Iodine) setelah susu diperah habis pada 7 ekor penderita mastitis akibat Staphylococcus aureus menunjukkan hasil yang sangat memuaskan, karena 100% (7 ekor) penderita bisa memproduksi susu kembali pada laktasi berikutnya. Sedangkan terapi mastitis dengan infus Chlorhexidine, hanya menghasilkan 71% (5 ekor). Mean milk Weight (kg) pada terapi Iodine lebih besar daripada terapi dengan Chlorhexidine. Sekresi susu dari kuartir yang diberi Iodine tidak mengandung residu pada pemeriksaan 35 hari post infusi, sedangkan pada infusi dengan Chlorhexidine ternyata mengandung residu antibiotik.
Wall (2006) melaporkan bahwa enzim protepolitik yang dikenal dengan Lysotaphin, yang dihasilkan oleh Staphylococcus simulans bisa memotong ikatan – ikatan spesifik dalam komponen dinding sel, yaitu peptidoglycan dari Staphylococcus aureus. Efikasi Lysotaphin untuk terapi mastitis yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus telah dievaluasi pada beberapa jenis ternak, antara lain : tikus, kambing dan sapi. Infusi Lysotaphin ke dalam kelenjar mammae yang terinfeksi memberikan respon perbaikan produksi pada laktasi berikut sebesar 20%. Transgene Lysotaphin memberikan pertahanan kuat melawan berbagai bakteri penyebab mastitis. Susu transgenik juga mengandung agen-agen yang menghambat pertumbuhan mikroba lain yang tidak diinginkan, sehingga susu dan produk susu lebih panjang daya simpannya.
Dalam pengobatan mastitis dengan menggunakan antibiotik, sehingga pengobatan bisa efektif, diperlukan uji sensitifitas antibiotik tersebut terhadap bakteri penyebab mastitis, terutama Staphylococcus aureus. Perlu diketahui bahwa Staphylococcus aureus telah menunjukkan sifat resistensi terhadap antibiotik. Berdasarkan sifat resistensinya, maka Staphylococcus aureus dikelompokkan dalam beberapa golongan, antara lain (1) Staphylococcus aureus yang menghasilkan enzim ร-laktamase, yang berada di bawah kontrol plasmid, dan membuat organisme resisten terhadap beberapa penisilin, antara lain penisilin G, ampisilin, piperasilin, tikarsilin dan obat-obat yang sejenis (2) Staphylococcus aureus yang resisten terhadap nafsilin, oksasilin, metisilin, yang tidak tergantung pada produksi ร-laktamase. Gen mecA untuk resistensi terhadap nafsilin terletak di kromosom.Resistensi ini berkaitan dengan kekurangan PBP (Penicillin Binding Protein) (3) Staphylococcus aureus yang memiliki kerentanan menengah terhadap vankomisin.
4. SEPTICEMIA EPIZOOTICA (SE) / Ngorok
Penyakit SE adalah penyakit menular terutama pada kerbau, sapi, babi dan kadang-kadang pada domba, kambing dan kuda yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida tipe tertentu. Penyakit biasanya berjalan secara akut , dengan angka kematian yang tinggi, terutama pada penderita yang telah menunjukkan tanda-tanda klinik yang jelas. Sesuai dengan namanya, pada kerbau dalam stadium terminal akan menunjukkan gejala-gejala ngorok (mendengkur), disamping adanya kebengkakan busung pada daerahdaerah submandibula dan leher bagian bawah. Gambaran seksi pada ternak memamah biak menunjukkan perubahan-perubahan sepsis.
Penyakit SE menyebabkan kematian, napsu makan berkurang, penurunan berat badan serta kehilangan tenaga kerja pembantu pertanian dan pengangkutan.
Di Indonesia, karena program vaksinasi SE dilakukan secara rutin, maka kejadian penyakit SE di Indonesia saat ini hanya bersifat sporadik. Namun wabah SE dalam jumlah cukup besar masih sering ditemukan, misalnya di daerah-daerah Nusatenggara, seperti Sumba,Timor, Sumbawa dan daerah-daerah lain. Pada umumnya wabah itu terjadi pada permulaan musim hujan. Hal ini biasanya disebabkan karena tidak tervaksinnya ternak-ternak di daerah itu. Keadaan ini mungkin karena vaksin tidak tersedia atau lapangan di mana ternak merumput secara liar sangat sulit terjangkau oleh vaksinator.
Penyebab
Penyebab penyakit SE adalah bakteri Pasteurella multocida yang berbentuk cocobacillus yang mempunyai ukuran yang sangat halus dan bersifat bipoler.
Secara serologik dikenal beberapa tipe dan penyebab SE di Indonesia, antara lain adalah Pasteurella multocida tipe 6B. Bakteri yang bersifat gram negatif ini tidak membentuk spora, bersifat non motil dan berselubung yang lama kelamaan dapat hilang karena penyimpanan yang terlalu lama.
Cara Penularan
Faktor-faktor predisposisi , seperti : kelelahan, kedinginan, pengangkutan, anemia dan sebagainya mempermudah timbulnya penyakit.
Penyakit ngorok biasanya menyerang sapi umur 6 – 24 bulan dan sering terjadi ada musim hujan yang dingin. Sapi yang belum divaksinasi SE lebih banyak terserang. Kondisi stress dalam pengangkutan merupakan penyebab utama terjadinya penyakit ini, sehingga penyakit ini disebut pula shipping fever.
Diduga pintu gerbang infeksi bakteri ke dalam tubuh penderita adalah daerah tenggorokan. Ternak sehat akan tertular oleh ternak sakit atau pembawa melalui kontak atau melalui makanan, minuman dan alat-alat yang tercemar. Ekskreta ternak penderita (ludah, kemih, dan tinja) juga mengandung bakteri.
Bakteri yang jatuh di tanah apabila keadaan serasi untuk pertumbuhan bakteri (lembab, hangat, teduh), maka akan tahan kurang lebih satu minggu dan dapat menulari ternak-ternak yang digembalakan di tempat tersebut.
Sapi yang menderita penyakit SE harus diisolasi pada tempat yang terpisah. Apabila sapi itu mati ataupun dapat sembuh kembali, kandang dan peralatan yang digunakan untuk perawatan sapi itu harus dihapushamakan. Jangan gunakan kandang tersebut sebagai tempat sapi sebelum lewat minimal 2 minggu.
Penyakit SE ditemukan di sebagian besar wilayah Indonesia dan negara negara lain kecuali Australia, Oceania, Amerika Utara, Jepang dan Afrika Selatan. Kebanyakan wabah bersifat musiaman, terutama pada musim penghujan. Faktor-faktor predisposisi seperti kelelahan, kedinginan, pengangkutan, anemia dan sebaginya mempermudah timbulnya penyakit. Diduga sebagai intu gerbang infeksi kuman ke dalam tubuh penderita adalah daerah tenggorokan. Hewan sehat akan tertular hewan sakit atau embawa melalui kontak atau melalui makanan, minuman dan alat0alat yang tercemar. Ada kemungkinan pula bahwa insekta dan lintah dapat bertindak sebagai vektor.
Pada babi SE dijumpai berbentuk gangguan pernafasan dengan gejala batuk lebih menonjol. Penularan melalui udara yang dibatukkan oleh penderita lebih mudah terjadi, apalagi kalau babi-babi tersebut makan dan minum dari tempat yang sama
Gejala Klinis
Gejala penyakit SE adalah
Bentuk busung
Bentuk pektoral
Kelainan pasca mati
Masa tunas SE adalah 1 – 2 hari. Penderita lesu, suhu tubuh naik dengan cepat sampai 410C atau lebih. Gemetar, mata sayu dan berair. Selaput lendir mata hiperemik. Napsu makan, memamah biak, gerak rumen dan usus menurun sampai hilang, disertai konstipasi. Mungkin pula gangguan pencernaan berupa kolik, peristaltik usus naik, dengan tinja yang konsistensinya agak cair dan kadang-kadang disertai titik-titik darah. Sekali-sekali ditemukan juga epistaksis, hematuria dan urtikaria yang dapat melanjut ke nekrose kulit.
Pada SE dikenal tiga bentuk, yaitu bentuk busung, pektoral dan intestinal. Pada bentuk busung ditemukan adanya busung pada kepala, tenggorokan, leher bagian bawah, gelambir dan kadang-kadang pada kaki muka. Tidak jarang pula dubur dan alat kelamin juga mengalami busung. Derajat kematian bentuk ini tinggi, sampai 90% dan berlangsung cepat, hanya 3 hari, kadang-kadang sampai 1 minggu. Sebelum mati, terutama pada kerbau gangguan pernafasan akan nampak sebagai sesak nafas (dyspnoe) dan suara ngorok, merintih dengan gigi gemeretak.
Pada bentuk pektoral, tanda-tanda bronchopneumonia lebih menonjol, yang dimulai dengan batuk kering dan nyeri, yang kemudian diikuti dengan keluarnya ingus hidung, pernafasan cepat dan susah. Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung lebih lama, yaitu antara 1 – 3 minggu.
Kadang-kadang penyakit dapat berjalan kronis, ternak menjadi kurus dan sering batuk, napsu makan terganggu, terus menerus mengeluarkan air mata. Suhu tidak berubah, tetapi terjadi mencret degil (sulit disembuhkan) yang bercampur darah.
Perubahan Pasca Mati
Secara anatomi patologi dikenal bentunk bususng, pektoral dan intestinal. Yang paling banyak ditemukan adalah kombinasi dua atau tiga bentuk , meskipun bentuk busung lebih menonjol.
Pada bentuk busung terlihat busung gelatin disertai perdarahan di bawah kulit di bagian kepala, leher, dada dan sekali-sekali meluas sampai bagian belakang perut. Cairan busung bersifat bening, putih kekuningan atau kadang-kadang kemerahan. Sering kali infiltrasi cairan serum terlihat sampai lapisan dalam otot. Busung gelatin juga ditemukan di sekitar faring, epiglotis dan pita suara. Lidah sering kali membengkak dan berwarna coklat kemerahan atau kebiruan dan kadang-kadang menjulur keluar. Selaput lendir saluran pernapasan umumnya membengkak dan kadang-kadang disertai selaput fibrin.
Kelenjar limfa retropharingeal dan cervical membengkak. Rongga perut kadang-kadang berisi beberapa liter cairan bening berwarna kekuningan atau kemerahan. Tanda-tanda peradanagn akut hemorrhagik bisa ditemukan di abomasum dan usus halkus dan sekalisekali di bagian colon. Isi rumen umumnya kering, sedangkan isi abomasum seperti bubur. Isi usus cair berwarna kelabu kekuningan atau kemerahan tercampur darah. Sering kali di dapati gastroenteritis bersifat hemorrhagik. Limpa jarang mengalami perubahan. Proses degenerasi umumnya ditemukan pada alat-alat parenkim (jantung, hati dan buah pinggang).
Pada bentuk pektoral terlihat pembendungan kapiler dan perdarahan di bawah kulit dan di bawah selaput lendir. Pada pleura terlihat peradangan dengan perdarahan titik (petechiae) dan selaput fibrin tampak pada permukaan alat-alat viseral dalam rongga dada. Juga terlihat gejala busung berbentuk hidrothorak, hidropericard dengan cairan yang kering., berfibrin. Paru-paru menderita bronchopneumoni berfibrin atau fibrinonekrotik. Bagian paru-paru mengalami hepatisasi dan kadang-kadang konsistensi agak rapuh. Hepatisasi umumnya terdapat secara seragam dalam satu stadium, berupa hepatisasi merah dalam keadaan akut, hepatisasi kelabu atau kuning dalam stadium yang lebih lanjut. Bidang sayatan paru-paru beraneka warna karena adanya pneumonia berfibrin, bagian-bagian nekrotik, sekat interlobuler berbusung dan bagian-bagian yang normal. Bagian paru-paru yang tidak meradang tampak hiperemik dan berbusung. Kelenjar limfa peribronchial membengkak. Kadang-kadang ada tanda-tanda enteritis akut sedangkan limfa umumnya normal.
Pada bentuk intestinal biasanya mengiringi kedua bentuk tersebut di atas, terlihat gastroenteritis kataralis hingga hemorrhagik.
Pencegahan
Pencegahan penyakit SE dilakukan dengan cara:
Untuk daerah bebas SE, tindakan pencegahan didasarkan pada peraturan yang ketat terhadap pemasukan hewan ke daerah tersebut.
Untuk-daerah-daerah tertular, hewan-hewan sehat divaksin dengan vaksin oil adjuvan
Ada hewan tersangka sakit daat dipilih salah satu dari perlakuan sebagai berikut :
Penyuntikan antiserum dengan dosis pencegahan
Penyuntikan antibiotik
Penyuntikan kemoterapika
Penyuntuikan antiserum dan antibiotik atai anti serum dan kemoterapika
Untuk daerah-daerah tertular, ternak-ternak sehat divaksin dengan vaksin oil adjuvant, sedikitnya setahun sekali dengan dosis 3 ml secara intra muskuler. Vaksinasi dilakukan pada saat tidak ada kejadian penyakit.
Pada ternak tersangka sakit dapat dipilih salah satu dari perlakuan penyuntikan antiserum dengan dosis pen cegahan, penyuntikan antibiotika, penyuntikan kemoterapetika, kombinasi penyuntikan antiserum dengan antibiotika atau kombinasi antiserum dengan kemoterapetika.
Dosis pencegahan antiserum untuk ternak besar adalah 20 – 30 ml dan untuk ternak kecil adalah 10 – 20 ml. Antiserum heterolog disuntikkan secara subkutan (SC) dan antiserum homolog disuntikkan secara intravena (IV) atau SC. Dua minggu kemudian bila tidak timbul penyakit disusul dengan vaksinasi.
Pengobatan
Pengobatan terhadap penyakit SE dapat dilakukan sebagai berikut (1) Seroterapi dengan serum kebal homolog dengan dosis 100 – 150 ml untuk ternak besar dan 50 – 100 untuk ternak kecil. Antiserum homolog diberikan secara IV atau SC. Sedangkan antiserum heterolog diberikan secara SC. Penyuntikan dengan antiserum ini memberikan kekebalan selama 2 sampai 3 minggu dan hanya baik bila dilakukan pada stadium awal penyakit. Sebaiknya pemberian seroterapi dikombinasikan dengan pemberian antibiotika atau kemoterapetika (2) Seandainya antiserum tidak tersedia, pengobatan dapat dicoba dengan preparat antibiotika, kemoterapetika atau gabungan kedua preparat tersebut (3) Sulphadimidine (suphamezathine) sebanyak 1 gram tiap 15 lb bw.
Pengendalian dan pemberantasan
Secara garis besar, polanya sama dengan pemberantasan penyakit anthrax, yaitu
dalam keadaan penyakit sporadis, tindakan pemberantasan ditekankan pada pengasingan hewan sakit dan penyuntikan antiserum SE pada hewan sakit
dalam keadaan penyakit enzootik/epizotik, tindakan pemberantasan ditekankan pada penentuan batas-batas daerah tertular dari daerah belum tertular
Perlakuan pemotongan hewan dan daging
Dengan pertimbangan bahwa:
SE tidak berbahaya untuk konsumsi manusia
Hamir seluruh indonesia adalah daerah tertular SE, maka hewan berpenyakit SE tidak dilarang untuk dipotong, sesuai dengan peraturan yang berlaku
Diagnosa banding
Apabila busung tidak terlihat jelas, SE dapat dikelurkan dengan anthrax dan rinderpest. Pada SE tidak ditemukan endarahan yang berwarna hitam serupa seerti halnya anthrax. Selain dari gejala-gejala klinis SE dapat dibedakan dari rinderpest, karena pada SE tidak terjadi radang usus yang bersifat krupus difteritis dan nekrose ada jaringan limfoid. Untuk peneguh diagnose, kuman penyebab SE harus dapat diisolasi. Perlu diketahui bahwa tidak hanya kuman Pasteurella yang mempunyai sifat bipoler.
5. Penyakit Pink Eye.
Pink Eye merupakan penyakit mata akut yang menular pada sapi, domba maupun kambing, biasanya bersifat epizootik dan ditandai dengan memerahnya conjunctiva dan kekeruhan mata.
Penyakit ini tidak sampai menimbulkan kematian, akan tetapi dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi peternak, karena akan menyebabkan kebutaan ,penurunan berat badan dan biaya pengobatan yang mahal.
Etiologi
Pink Eye disebabkan oleh bakteri, virus, rikketsia maupun chlamydia, namun yang paling sering ditemukan adalah akaibat bakteri Maraxella bovis.
Cara Penularan
Mikrorganisme penyebab ditularkan lewat kontak antara ternak peka dengan ternak penderita atau oleh serangga yang bisa memindahkan mikroorganisme atau bisa juga lewat iritasi debu atau sumber-sumber lain yang dapat menyebabkan goresan atau luka mata.
Gejala Klinis
Mata berair, kemerahan pada bagian mata yang putih dan kelopaknya, bengkak pada kelopak mata dan cenderum menjulingkan mata untuk menghindari sinar matahari. Selanjutnya selaput bening mata/kornea menjadi keruh dan pembuluh darah tampak menyilanginya. Kadang-kadang terjadi borok atau lubang pada selaput bening mata. Borok dapat pecah dan mengakibatkan kebutaan. Mata akan sembuh dalam waktu 1 – 4 minggu, tergantung kepada penyebabnya dan keganasan penyakitnya.
Pengobatan
Suntikan antibiotik, seperti tetracyclin atau tylosin dan penggunaan salep mata dapat membantu kesembuhan penyakit. Menempatkan ternak pada tempat yang teduh atau menempelkan kain di mata dapat mengurangi rasa sakit mata akibat silaunya matahari.
Pencegahan
Memisahkan ternak yang sakit dari ternak-ternak sehat merupakan cara terbaik untuk pencegahan terhadap pinx eye. Tidak tersedia vaksin untuk penyakit ini.
6. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Penyakit mulut dan kuku (PMK) disebut juga foot and mouth disease (FMD) atau Aphtae Epizooticae (AE). Penyakit mulut dan kuu adalah penyakit akut dan sangat menular yang menyerang sapi, kerbau, babi, kambing, domba dan hewan berkuku genap lainnya. Infeksi ditadai dengan pembentukan lepuh yang kemudian berkembang menjadi erosi pada selaput lendir mulut, diantara kuku, lekuk koroner kaki dan puting susu.
Penyebab PMK adalah virus RNA, berdiameter 20 mu. Virus ini sangat labit (antigenetisnya mudah berubah), virusnya tidak tahan terhadap asam dan alkalis, panas, sinar ultraviolet, beberapa zat kimia dan desinfektan. Akan tetapi virus ini tahan hidup ada bahan yang mengandung protein, tahan kekeringan dan tahan dingin.
Gejala klinis ada ternak adalah lesu, suhu tubuh dapat mencapai 41 0C, hypersalivasi (karena erosi selaput lendir mulut dan lidah), nafsu makan berkurang, enggan berdiri (karena luka pada interdigital), enurunan produksi susu secara mendadak, penurunan berat badan yang terjadi serentak pada suatu kelompok hewan dan hewan antar jenis lainnya di pekarangan yang sama. Gejala yang khas berupa lepuh-lepuh diruang mulut terutama bagian atas indah, bibir bagian dalam, gusi, langit-langit, dan sekali-kali pada selaput lendir mata.
Pencegahan penyakit PMK
Laporan Dinas Peternakan kepada Dirjen eternakan dan Pemda, tentang terdaatnya kejadian pertama PMK
Melakukan pemeriksaan dan peneguhan PMK oleh laboratorium yang berwenang
Pernyataan dari pihan Dirjen Peternakan dan Penda tentang terdaatnya/bebasnya statu daerah terhadap PMK
Ketentuan Umum
Persyaratan khusus lalu lintas ternak bibit dan potong
Pengendalian penyakit PMK
Vaksinasi
Pada pemindahan hewan dari daerah tersangka dan tertular dan tertular ke suatu daerah perlu dilakukan vaksinasi
Daerah terjangkit, tertutup bagi keluar masuknya hewan. Alat-alat angkutan atau alat lainnya dihapushamakan sebelum meinggalkan daerah.
Virus PMK pada jerami tahan 1 bulan dan yang terbungkus protein tahan berbulan-bulan
Pengobatan terhada penderita PMK dengan serum dan antibiotika tidak memperoleh hasil yang memuaskan karena hanya infeksi sekunder saja.
Pemberantasan penyakit PMK
Pembunuhan hewan yang sakit dan hewan yang berkontak dengan hewan yang sakit adalah cara yang terbaik untuk memberantas PMK, tetapi hal ini membutuhkan biaya yang besar, cara ini hanya daat dilakukan pada keadaan yang khusus seerti daerah wabah.
Perlakukan pemotongan hewan dan daging
Ternak penderita atau tersangka PMK diijinkan untuk dipotong. Ternak tersebut daat diangkut ke RPH dan dagingnya bolej diperjualbelikan setelah dilayukan 24 jam, akan tetapi tulang, jerohan/viscera, kaki dan kepala harus direbus terlebih dahulu, kulitnya boleh diangkut keluar RPH dalam keadaan kering sempurna dan setelah direbus.
Powered by Weebly
Mobile SiteFull Site
Senin, 07 Oktober 2013
WASPADA: Penyakit Cacingan pada Ternak Sapi.
Cacingan pada Sapi dan Agen Penyebabnya.
Cacing pita (Cestoda)
Cacing hati (Trematoda)
Faktor Predisposisi (Pemicu) Cacingan
Umur
Musim atau kondisi lingkungan
Keberadaan vektor (inang antara)
Metode pemeliharaan
Gejala Klinis dan Perubahan Organ (Patologi Anatomi)
Cara Mendiagnosa Cacingan pada Sapi
Pengendalian dan Penanganan Cacingan
Program pemberian anthelmintika (obat cacing)
Sanitasi kandang dan lingkungan
Sistem penggembalaan dan pemberian rumput
Populasi inang antara
untuk kelangsungan hidup siput air tawar.
Kualitas Pakan
Monitoring telur dan larva cacing
Info Medion Edisi Juni 2013.
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id)














